Termenung dalam sunyi di lautan hening
terpekur menatap kosong jauh ke depan
terbayang semua peristiwa penuh kilau
membawa seperangkat kegalauan dan keputusasaan
Berbilang masa bersusun waktu
perjalaan waktu yang konstan
menarikan semua kejadian penuh konsentrasi
menyemburat dan memproklamirkan semua tanpa ambil peduli
gerakan tanga melamban
sejenak menghapus derai air mata
menahan sesenggukan yang dalam
menyiksa tenggorokan
ada pedih seperti disayat sembilu
sakit, teramat perih
bercampur dengan warna sesal
bersatu menghancurkan dinding harapan
terkenang masa dan tersadar akan kenyataan
didera kesamaan prestasi di setiap visi
tak kah ada hasil usaha yang patut dibanggakan??
haruskah berada dalam lubang yang sama?
sejenak terpekur dan terdiam
mengucurkan air mata sesal
merasa diri bernoda dan jorok
berdosa dan tak berbakti
tersadarkan jiwa walau sementara
tersadar hati walau kemudian terlena
dan terus berulang
tanpa makna dan capaian yang berkembang
inilah aku
ini lah diri dan jiwa serta hatiku
aku gagal
berdosa dan bernoda
terjerembab dalam nostalgia
tersngkur karena fitrah untuk mendapat pasangan
tersangkut dengan alasan ketiadaan
aku, sadar dalam kelemahan
kehilangan tujuan dalam kehangatan perjuangan
didera konsep dan harapan
yang membunuh semua harapan ketika tersadar
aku, terpuruk dalam kubangan nista dan dosa
berbalut serban kenakalan
berpayung kain nista dan kegagalan
ternyata aku gagal
aku
aku tak tahan
aku mau berubah
aku mau menjadi sang pejuang
pejuang yang bangkit dari keterpurukan
menjadi pelopor kebangkitan
walau tarikan pecundang jiwa
aku harus mampu hadapi
aku jatuh dan gagal
aku juga mau dan harus berubah
aku harus meniti jalan yang berduri
biarkan kamu mencela
menertawakan dan mengucilkan
aku tetap berdiri
meunjukkan aku, setidaknya untuk wanita tersayang, bunda
SMA swasta An Nizam Medan
-SAR-
Sebuah peran untuk sebuah ketaatan. Menyebar kemanfaatan. Melepas kegelisahan. Menambah kemanfaatan. Menambah kebaikan. Kehidupan yang tidak bisa sendiri. Jadi, harus saling berbagi. Merekatkan jiwa dengan sayap keikhlasan. Meneguhkan hati dalam ketaatan bersama biduk kehambaan. Mencari sebuah kebaikan dengan jalan kebaikan. Sadar sebagai insan nan lalai. Berharap teguran bila tersalah. Menanti dukungan bila dalam kebenaran. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Minggu, 07 November 2010
Kamis, 29 Juli 2010
Tarhib Ramadhan
TARHIIB RAMADHAN
Alhamdulillah, pada tahun ini kita-insya Allah- akan kembali bertemu dengan tamu mulia bulan suci Ramadhan. Bulan penuh berkah, rahmat dan maghfirah, bulan diwajibkan shiyam dan diturunkan Al-Qur’an sebagai hidayah untuk manusia. Malam diturunkan Al-Qur’an disebut Malam Kemuliaan (Lailatul Qodr) yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan ibadah dan pembinaan kaum muslimin menuju derajat muttaqiin.
Khutbah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyambut Ramadhan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat gembira dan memberikan kabar gembira kepada umatnya dengan datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan-keutamaannya dalam pidato penyambutan bulan suci Ramadhan:
عَنْ سَلْمَانَ الفَارِسِي قَالَ: خَطَبَنَا رَسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَان فقال "يا أيها الناسَ قَدْ أَظَلَّكُم شَهْرٌ عَظِيْمٌ شهرٌ مُباركٌ، شهرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، وَجَعَلَ اللهُ تَعَالى صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فريضةً فِيْهِ كان كمن أدّى سَبْعِيْنَ فريضةً فيما سواه، وهو شهرُ الصبرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّة، وشهرُ الْمُوَاسَاةِ وشهرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنَ فَطََّرَ فِيْهِ صَائِمًا كان لَهُ مغفرةً لِذُنُوْبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وكان له مثلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِن أجرِه شيء. قُلْنَا: يَا رسولَ اللهِ لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَائم؟ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: يُعْطِي اللهُ هذا الثوابَ مَنْ فطَّر صائما على مَذْقَةِ لَبَنٍ، أو تَمْرَةٍ، أو شربةٍ مِنْ مَاءٍ، ومَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شربةً لاَ يَظْمَأ حتَّى يدخلَ الجنةِ، وهو شهرٌ أَوَّلُهُ رحمةٌ وَأَوْسَطُهُ مغفرةٌ، وآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَن خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فيه غَفَرَ له وأَعْتَقَهُ مِنَ النار، فَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا. فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أنْ لاَ إله إلاَّ الله وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وأمَّا اللتان لا غِنَى بِكم عنهما فَتَسْأَلُوْنَ الجنةَ وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَمَنْ أَشْبَعَ فيه صائما سقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شُربةً لاَ يَظْمَأُ حتَّى يدخلَ الجنة
Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun ». kami berkata : »Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa ? ». Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka . Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya , maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaha illallah dan beristighfar kepada-Nya. Adapaun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga” (HR al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).
Persiapan Diri Secara Maksimal
a. Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.
b. Persiapan ruhiyah (spiritual)
Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).
c. Persiapan fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakuakan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.
d. Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).
Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal. untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.
Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)
Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11).
Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).
Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah dan Persatuan Umat Islam
Bulan Ramadhan adalah bulah rahmat, dimana kasih sayang dan persaudaraan harus diutamakan dari yang lainnya. Ukhuwah Islamiyah adalah prinsip dari kebaikan umat Islam. Sehingga ibadah Ramadhan harus berdampak pada ukhuwah Islamiyah. Dan ukhuwah Islamiyah ini harus terlihat jelas dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan dan mengsisi ibadah Ramadhan. Namun demikian, semuanya harus tetap komitmen dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Diperlukan sikap bijak dari para ulama untuk bertemu dan duduk dalam satu majelis bersama pemerintah (Departemen Agama) menentukan kesamaan awal dan akhir Ramadhan. Tentunya berdasarkan argumentasi ilmiyah yang kuat dan landasan-landasan yang kokoh berdasarkan Syariat Islam. Memang perbedaan pendapat (dalam masalah furu) adalah rahmat. Tetapi kesamaan penentuan awal dan akhir Ramadhan lebih lebih dekat dari rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa. Perbedaan pendapat dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan adalah suatu pertanda belum terbangun kuatnya budaya syuro’, ukhuwah Islamiyah dan pembahasan ilmiyah dalam tubuh umat Islam, lebih khusus lagi para ulamanya.
Ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting dari ibadah-ibadah sunnah dan perbedaan pendapat tetapi menimbulkan perpecahan.
Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami.
Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.
Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).
Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)
Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah
Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan
Mengambil Keberkahan Ramadhan secara Semaksimal
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islah harus mengembail keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw . menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.
Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)
Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya.
Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah.
diambil dari Buku : PANDUAN IBADAH RAMADHAN DEWAN SYARIAH PUSAT PARTAI KEADILAN SEJAHTERA yang diedit oleh Iman Santoso, Lc.
Alhamdulillah, pada tahun ini kita-insya Allah- akan kembali bertemu dengan tamu mulia bulan suci Ramadhan. Bulan penuh berkah, rahmat dan maghfirah, bulan diwajibkan shiyam dan diturunkan Al-Qur’an sebagai hidayah untuk manusia. Malam diturunkan Al-Qur’an disebut Malam Kemuliaan (Lailatul Qodr) yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan ibadah dan pembinaan kaum muslimin menuju derajat muttaqiin.
Khutbah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyambut Ramadhan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat gembira dan memberikan kabar gembira kepada umatnya dengan datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan-keutamaannya dalam pidato penyambutan bulan suci Ramadhan:
عَنْ سَلْمَانَ الفَارِسِي قَالَ: خَطَبَنَا رَسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَان فقال "يا أيها الناسَ قَدْ أَظَلَّكُم شَهْرٌ عَظِيْمٌ شهرٌ مُباركٌ، شهرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، وَجَعَلَ اللهُ تَعَالى صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فريضةً فِيْهِ كان كمن أدّى سَبْعِيْنَ فريضةً فيما سواه، وهو شهرُ الصبرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّة، وشهرُ الْمُوَاسَاةِ وشهرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنَ فَطََّرَ فِيْهِ صَائِمًا كان لَهُ مغفرةً لِذُنُوْبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وكان له مثلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِن أجرِه شيء. قُلْنَا: يَا رسولَ اللهِ لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَائم؟ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: يُعْطِي اللهُ هذا الثوابَ مَنْ فطَّر صائما على مَذْقَةِ لَبَنٍ، أو تَمْرَةٍ، أو شربةٍ مِنْ مَاءٍ، ومَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شربةً لاَ يَظْمَأ حتَّى يدخلَ الجنةِ، وهو شهرٌ أَوَّلُهُ رحمةٌ وَأَوْسَطُهُ مغفرةٌ، وآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَن خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فيه غَفَرَ له وأَعْتَقَهُ مِنَ النار، فَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا. فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أنْ لاَ إله إلاَّ الله وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وأمَّا اللتان لا غِنَى بِكم عنهما فَتَسْأَلُوْنَ الجنةَ وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَمَنْ أَشْبَعَ فيه صائما سقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شُربةً لاَ يَظْمَأُ حتَّى يدخلَ الجنة
Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun ». kami berkata : »Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa ? ». Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka . Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya , maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaha illallah dan beristighfar kepada-Nya. Adapaun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga” (HR al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).
Persiapan Diri Secara Maksimal
a. Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.
b. Persiapan ruhiyah (spiritual)
Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).
c. Persiapan fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakuakan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.
d. Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).
Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal. untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.
Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)
Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11).
Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).
Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah dan Persatuan Umat Islam
Bulan Ramadhan adalah bulah rahmat, dimana kasih sayang dan persaudaraan harus diutamakan dari yang lainnya. Ukhuwah Islamiyah adalah prinsip dari kebaikan umat Islam. Sehingga ibadah Ramadhan harus berdampak pada ukhuwah Islamiyah. Dan ukhuwah Islamiyah ini harus terlihat jelas dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan dan mengsisi ibadah Ramadhan. Namun demikian, semuanya harus tetap komitmen dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Diperlukan sikap bijak dari para ulama untuk bertemu dan duduk dalam satu majelis bersama pemerintah (Departemen Agama) menentukan kesamaan awal dan akhir Ramadhan. Tentunya berdasarkan argumentasi ilmiyah yang kuat dan landasan-landasan yang kokoh berdasarkan Syariat Islam. Memang perbedaan pendapat (dalam masalah furu) adalah rahmat. Tetapi kesamaan penentuan awal dan akhir Ramadhan lebih lebih dekat dari rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa. Perbedaan pendapat dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan adalah suatu pertanda belum terbangun kuatnya budaya syuro’, ukhuwah Islamiyah dan pembahasan ilmiyah dalam tubuh umat Islam, lebih khusus lagi para ulamanya.
Ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting dari ibadah-ibadah sunnah dan perbedaan pendapat tetapi menimbulkan perpecahan.
Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami.
Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.
Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).
Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)
Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah
Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan
Mengambil Keberkahan Ramadhan secara Semaksimal
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islah harus mengembail keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw . menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.
Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)
Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya.
Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah.
diambil dari Buku : PANDUAN IBADAH RAMADHAN DEWAN SYARIAH PUSAT PARTAI KEADILAN SEJAHTERA yang diedit oleh Iman Santoso, Lc.
Minggu, 25 Juli 2010
Menyudahi Kesalahan Biasa
Bismillahirrahmanirrahim!
Beranjak dari tumpukan kemalasan. Merangkak dari gundukan keresahan akan masa yang akan datang. Melangkah menyususri kesedihan. Meskipun terkadang seolah berkabut. Perjalanan ini penuh kekaburan.
Yang jelas, ketidakmauan untuk mengakhiri segalanya dengan kegetiran mulai menelusup dan mempengaruhi hormon motivasi. Gerakan itu perlahan mendobrak dan mengobrak-abrik dinding kenyamanan. Sakit sekali rasat tarikannya. Meski sadar akan kebaikannya dan butuh akan kesudahannya, gebrakan itu kadang dihalangi oleh jiwa dan hati.
Sudahlah! Rasanya tidak pernah keoptimisan yang aku tuliskan. Aku kini tentunya bukan aku yang dulu. Dan pasti tidak sama dengan aku di masa yang akan datang. Karena perubahan itu konstan. Setidaknya waktu.
Melepaskan segala atribut diri yang sudah dimiliki sejak lama walaupun beberapa waktu lalu terasa sangat berat. Apalagi dalam rangka mengubah karakter yang sudah berlarut-larut dalam jiwa. Tapi, masih ada ruang. Ya, karena sebenarnya semua yang kini besar berawal dari yang paling kecil.
Jadi berbuat aja yang kecil-kecil. Seiring dengan kettekunan dan waktu kelak ia akan memberikan warna baru yang gemerlap sehingga menyemburatlah keindahan.
Ya, terasa letih dengan kesalahan yang terus berulang. Dan itu seputar hal kecil saja. Hal yang tak pernah kupermasalahkan ternyata mengundang sejuta rasabagi yang lain. Sakit hati. Biasanya itu efek yang akan hadir tanpa kusadari. Sekian orang sudah sakit hati dengan hal yang menurutku amat sepele dan biasa aja.
Inikah bentuk keegoanku? Ataukah ini bentuk kelalaian yang di sengaja?
Yang jelas, aku tak pernah mengharapkan kejadian yang membuat sakit hati itu terjadi. Pada siapa pun. Aku doakan semoga sakit hati mereka digantikan dengan ketenangan dan rasa semangat untuk beramal. Dan Allah mudahkan semua urusan mereka.
Jadi penuh dosa. Maafkan aku yaaaaaaaaa.
Selagi ada waktu, aku akan upayakan perubahan ini. Ya, meninggalkan kebiasaan salah yang dianggap sepele. Mudahkan bagiku ya Allah....
Met Berubah wahai jiwa
Teguhlah pada prinsip
Sabarlah atas cobaan.
Kuatkan asamu
Nyatakan mimpi dan visimu dalam setiap ingatmu
Sehingga sekecil apapun yang dilakukan maka itu adalah jalan menuju visi
meraih mimpi
mendapatkan asa.
Teruntukmu Ibu
Maafkan aku
Aku malu bertemu denganmu
Aku takut ebgkau marah dan kecewa
harapanmu dan juga pesan Ayah
tetap kuingat
Maafkan, karena menganggap bisa dan sepele
akhirnya kini aku harus tersiksa
Ibu
walau mungkin engkau tak pernah membaca ini
aku tahu engkau akan rasakan getaran ini
karena aku berupaya
untuk jiwaku selalu satu irama dan satu gelombang dengan jiwamu
karena aku mencintaimu,Ibu
Maafkan, kalau sebatas ungkapan
Maafkan
Semoga keyakinanku bahwa akan datang masa dan perolehan terbaik
sudah kian dekat
sehingga aku mampu berikan padamu
Tuhan,kuatkanlah jiwa ini
melawan dan keluar dari godaan syetan
juga semua cabaran dan mehnah
Pada-Mu aku sandarkan
Pada-Mu aku serahkan
Wahai penguasa hidupku
Allah yang maha pengasih
.........
,,,,,
///////////////
Beranjak dari tumpukan kemalasan. Merangkak dari gundukan keresahan akan masa yang akan datang. Melangkah menyususri kesedihan. Meskipun terkadang seolah berkabut. Perjalanan ini penuh kekaburan.
Yang jelas, ketidakmauan untuk mengakhiri segalanya dengan kegetiran mulai menelusup dan mempengaruhi hormon motivasi. Gerakan itu perlahan mendobrak dan mengobrak-abrik dinding kenyamanan. Sakit sekali rasat tarikannya. Meski sadar akan kebaikannya dan butuh akan kesudahannya, gebrakan itu kadang dihalangi oleh jiwa dan hati.
Sudahlah! Rasanya tidak pernah keoptimisan yang aku tuliskan. Aku kini tentunya bukan aku yang dulu. Dan pasti tidak sama dengan aku di masa yang akan datang. Karena perubahan itu konstan. Setidaknya waktu.
Melepaskan segala atribut diri yang sudah dimiliki sejak lama walaupun beberapa waktu lalu terasa sangat berat. Apalagi dalam rangka mengubah karakter yang sudah berlarut-larut dalam jiwa. Tapi, masih ada ruang. Ya, karena sebenarnya semua yang kini besar berawal dari yang paling kecil.
Jadi berbuat aja yang kecil-kecil. Seiring dengan kettekunan dan waktu kelak ia akan memberikan warna baru yang gemerlap sehingga menyemburatlah keindahan.
Ya, terasa letih dengan kesalahan yang terus berulang. Dan itu seputar hal kecil saja. Hal yang tak pernah kupermasalahkan ternyata mengundang sejuta rasabagi yang lain. Sakit hati. Biasanya itu efek yang akan hadir tanpa kusadari. Sekian orang sudah sakit hati dengan hal yang menurutku amat sepele dan biasa aja.
Inikah bentuk keegoanku? Ataukah ini bentuk kelalaian yang di sengaja?
Yang jelas, aku tak pernah mengharapkan kejadian yang membuat sakit hati itu terjadi. Pada siapa pun. Aku doakan semoga sakit hati mereka digantikan dengan ketenangan dan rasa semangat untuk beramal. Dan Allah mudahkan semua urusan mereka.
Jadi penuh dosa. Maafkan aku yaaaaaaaaa.
Selagi ada waktu, aku akan upayakan perubahan ini. Ya, meninggalkan kebiasaan salah yang dianggap sepele. Mudahkan bagiku ya Allah....
Met Berubah wahai jiwa
Teguhlah pada prinsip
Sabarlah atas cobaan.
Kuatkan asamu
Nyatakan mimpi dan visimu dalam setiap ingatmu
Sehingga sekecil apapun yang dilakukan maka itu adalah jalan menuju visi
meraih mimpi
mendapatkan asa.
Teruntukmu Ibu
Maafkan aku
Aku malu bertemu denganmu
Aku takut ebgkau marah dan kecewa
harapanmu dan juga pesan Ayah
tetap kuingat
Maafkan, karena menganggap bisa dan sepele
akhirnya kini aku harus tersiksa
Ibu
walau mungkin engkau tak pernah membaca ini
aku tahu engkau akan rasakan getaran ini
karena aku berupaya
untuk jiwaku selalu satu irama dan satu gelombang dengan jiwamu
karena aku mencintaimu,Ibu
Maafkan, kalau sebatas ungkapan
Maafkan
Semoga keyakinanku bahwa akan datang masa dan perolehan terbaik
sudah kian dekat
sehingga aku mampu berikan padamu
Tuhan,kuatkanlah jiwa ini
melawan dan keluar dari godaan syetan
juga semua cabaran dan mehnah
Pada-Mu aku sandarkan
Pada-Mu aku serahkan
Wahai penguasa hidupku
Allah yang maha pengasih
.........
,,,,,
///////////////
Selasa, 20 Juli 2010
sok puitis
Di hati ini hanya Allah yang tahu.
Di hati ini aku rindu padamu
di hati ini penuh dengan pertanyaan
wahai insan terkasih
Resah dan gelisah ini membuncah
ingin sekedar mendengar suaramu
biar sekedar tahu kondisimu kini
wahai insan terkasih
aku tak pernah peduli
apapun yang kini kau rasa
aku tak tahu adakah getar ini di dadamu
adakah sedikit resah yang sama
menerpa hatimu
aku tak tahu kenapa
tiba-tiba saja
seluruh aliran darah ku menyebu namamu
kaki dan tanganku bergetar menahan rasa
bahkan lututku lemas
sungguh terpaan rasa ini terkadang menyiksa
Tuhanku………………oh Tuhan
Engkau saksikan dengan nyata detak hati ini
Engkau ketahui dengan jelas desiran dalam darah ini
Engkau pasti tak akan melupakan ini
Kelak Engkau akan menagih ini padaku
di saat semuanya berbaris di hadapan-Mu
Tak satu pun yang akan berdusta
semua akan menyampaikan kisahnya
dengan sejujur-jujurnya
Tuhan
Engkau pasti tak pernah lupa
Engkau saksikan di usiaku kini
dan perasaan yang mendera ini
Tuhan
Aku tak kuat
Aku sangat lemah
Aku tak kuasa melawan ini
aku berharap deraan ini adalah fitrahku
sebuah bentuk kemahakuasaanmu
menciptakan makhluk dengan berpasang-pasangan
memberikan rasa tenteram pada pasangan
Tuhanku
tolong aku
ku mohon
rasa ini jangan menjadi bumerangku
Aku tidak berhak tentang rahasia-Mu di masa depan
Walau rasa ini ada padanya
walau hati ini tertuju padanya
Sungguh Tuhan
Aku tak ingin menadi yang melalaikan-Mu
Bantulah aku Tuhan
Sungguh aku ta ingin menjadi pelanggar syariat-Mu
Aku ingin patuhi semua dari-Mu
Betapapun hati ini
haruslah Engkau yang nomor satu
Tuhan
di saat rasa ini mendera
di kala hasrat ini membuncah
tatkala lintasan itu berkelebat tiada henti
Jangan biarkan aku Tuhan
Jangan tinggalkan aku
Tolong lindungi aku dari syetan yang melenakan
Tolong kuatkan hati ini
suburkan keikhlasan sehingga ada benteng dari syetan
Tuhan, aku sangat berharap pada-Mu
Di hati ini
Engkau saksikan kelebatan rasa itu
Di hati ini
Engkau ketahui hasrat ini
bahkan detakan wajah dan nama itu
aku malu pada-Mu wahai Tuhan
tapi aku tak kuasa melawan terpaan ini
JIka rasa ini akan berujung kebaikan
sabarkan aku menjalani
tanpa melanggar syariat-Mu
hingga tiba kebaikan itu
Jika rasa ini akan mengundang musibah
sabarkan aku
untuk menghapusnya dengan jalan syariat-Mu pula
hingga bersih seperti kain putih yang paling bersih
Tuhan……
Wahai Tuhan
Engkau penciptaku
Engkau menguasai segala sesuatu
Biarkanlah wahai Tuhan
Rasa cintaku padamu
Rasa cintaku pada rasul-Mu
Rasa cintaku pada jihad di jalan-Mu
mendominasi hatiku
Maafkan semua khilafku Tuhan
Ampuni segala dosaku Tuhan
Wahai Engkau yang maha pemaaf dan maha pengampun
Aku adalah hamba-Mu
Tuhanku
Allahku
Hanya Engkau lah tuhanku wahai Allah
Hanya Engkau sajayang aku sembah
Hanya Engkau tempat aku meminta pertolongan
Kupasrahkan dan kuadukan rasa ini pada-Mu
Rasa ini datang dari-Mu, harapanku
dan sepantasnya aku kembalikan pada-Mu
Tolong jaga aku
Lindungi aku dari segala kejahatan dan kemaksiatan
Masukkan aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang menyucikan diri
Allahu Akbar
…………………….
Di hati ini aku rindu padamu
di hati ini penuh dengan pertanyaan
wahai insan terkasih
Resah dan gelisah ini membuncah
ingin sekedar mendengar suaramu
biar sekedar tahu kondisimu kini
wahai insan terkasih
aku tak pernah peduli
apapun yang kini kau rasa
aku tak tahu adakah getar ini di dadamu
adakah sedikit resah yang sama
menerpa hatimu
aku tak tahu kenapa
tiba-tiba saja
seluruh aliran darah ku menyebu namamu
kaki dan tanganku bergetar menahan rasa
bahkan lututku lemas
sungguh terpaan rasa ini terkadang menyiksa
Tuhanku………………oh Tuhan
Engkau saksikan dengan nyata detak hati ini
Engkau ketahui dengan jelas desiran dalam darah ini
Engkau pasti tak akan melupakan ini
Kelak Engkau akan menagih ini padaku
di saat semuanya berbaris di hadapan-Mu
Tak satu pun yang akan berdusta
semua akan menyampaikan kisahnya
dengan sejujur-jujurnya
Tuhan
Engkau pasti tak pernah lupa
Engkau saksikan di usiaku kini
dan perasaan yang mendera ini
Tuhan
Aku tak kuat
Aku sangat lemah
Aku tak kuasa melawan ini
aku berharap deraan ini adalah fitrahku
sebuah bentuk kemahakuasaanmu
menciptakan makhluk dengan berpasang-pasangan
memberikan rasa tenteram pada pasangan
Tuhanku
tolong aku
ku mohon
rasa ini jangan menjadi bumerangku
Aku tidak berhak tentang rahasia-Mu di masa depan
Walau rasa ini ada padanya
walau hati ini tertuju padanya
Sungguh Tuhan
Aku tak ingin menadi yang melalaikan-Mu
Bantulah aku Tuhan
Sungguh aku ta ingin menjadi pelanggar syariat-Mu
Aku ingin patuhi semua dari-Mu
Betapapun hati ini
haruslah Engkau yang nomor satu
Tuhan
di saat rasa ini mendera
di kala hasrat ini membuncah
tatkala lintasan itu berkelebat tiada henti
Jangan biarkan aku Tuhan
Jangan tinggalkan aku
Tolong lindungi aku dari syetan yang melenakan
Tolong kuatkan hati ini
suburkan keikhlasan sehingga ada benteng dari syetan
Tuhan, aku sangat berharap pada-Mu
Di hati ini
Engkau saksikan kelebatan rasa itu
Di hati ini
Engkau ketahui hasrat ini
bahkan detakan wajah dan nama itu
aku malu pada-Mu wahai Tuhan
tapi aku tak kuasa melawan terpaan ini
JIka rasa ini akan berujung kebaikan
sabarkan aku menjalani
tanpa melanggar syariat-Mu
hingga tiba kebaikan itu
Jika rasa ini akan mengundang musibah
sabarkan aku
untuk menghapusnya dengan jalan syariat-Mu pula
hingga bersih seperti kain putih yang paling bersih
Tuhan……
Wahai Tuhan
Engkau penciptaku
Engkau menguasai segala sesuatu
Biarkanlah wahai Tuhan
Rasa cintaku padamu
Rasa cintaku pada rasul-Mu
Rasa cintaku pada jihad di jalan-Mu
mendominasi hatiku
Maafkan semua khilafku Tuhan
Ampuni segala dosaku Tuhan
Wahai Engkau yang maha pemaaf dan maha pengampun
Aku adalah hamba-Mu
Tuhanku
Allahku
Hanya Engkau lah tuhanku wahai Allah
Hanya Engkau sajayang aku sembah
Hanya Engkau tempat aku meminta pertolongan
Kupasrahkan dan kuadukan rasa ini pada-Mu
Rasa ini datang dari-Mu, harapanku
dan sepantasnya aku kembalikan pada-Mu
Tolong jaga aku
Lindungi aku dari segala kejahatan dan kemaksiatan
Masukkan aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang menyucikan diri
Allahu Akbar
…………………….
Sabtu, 17 Juli 2010
MASA DEPAN
kek judul artikel aja.
tapi, emang sulit ya merancang masa depan. Semoga tidak pernah da rasa sesal di hati dengan semua yang kuterima.
Semoga ada jalan terbaik tuk aku bisa raih gelar akademik itu. setidaknya berganti baju dan identitas akademis. biarlah.
atau bisa ikutan di ma'had abu ubaidah belajar bahasa arab. semoga segera jelas.
jadi khawatir target tahu depan kelelet lagi, AHHH
terlalu khawatir dengan masa depan. sesuai rencana awal aja. setelah pasti urusan akademis ini maka nekad aja. heeehheheeeee
siapa? dimana?
Rahasia kali.
biarkan saja woooooooooooooiiiiiiiiiiiiiiiiii.
tuk y baca jangan pening2 kali mehaminya. namanya aja curhat diary. yah moodnya seenak wae lah.
tapi capek lah. ndak ada kegiatan. di struktur tak diterima. ahhhhhhhhh
di nizam terancam. capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek
jadi tenang aja bawaanya. tenang paok. ndak ada makna.
ampuni aku Tuhanku.
tapi, emang sulit ya merancang masa depan. Semoga tidak pernah da rasa sesal di hati dengan semua yang kuterima.
Semoga ada jalan terbaik tuk aku bisa raih gelar akademik itu. setidaknya berganti baju dan identitas akademis. biarlah.
atau bisa ikutan di ma'had abu ubaidah belajar bahasa arab. semoga segera jelas.
jadi khawatir target tahu depan kelelet lagi, AHHH
terlalu khawatir dengan masa depan. sesuai rencana awal aja. setelah pasti urusan akademis ini maka nekad aja. heeehheheeeee
siapa? dimana?
Rahasia kali.
biarkan saja woooooooooooooiiiiiiiiiiiiiiiiii.
tuk y baca jangan pening2 kali mehaminya. namanya aja curhat diary. yah moodnya seenak wae lah.
tapi capek lah. ndak ada kegiatan. di struktur tak diterima. ahhhhhhhhh
di nizam terancam. capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek
jadi tenang aja bawaanya. tenang paok. ndak ada makna.
ampuni aku Tuhanku.
Kamis, 15 Juli 2010
Biarkan ketetapan itu
Semoga pertahanan hati dan jiwa tetap segar dan kokoh. Kesalahan di masa lalu tak untuk disesali. Menerima dan menyikapi semua keputusan ini harus dengan tenang dan jangan sampai jatuh ke dalam lembah kemaksiatan lagi.
Semoga sang bundaku tersayang tidak shock dengan berita ini. Aku hanya berharap bisa mendapatkan solusi terbaik. Betapapun, rasanya tetap penting aku untuk mendapatkan lisensi menyampaikan ilmu tuk yang lain. sekalipun bukan dari *****d.
Semoga!
Semoga sang bundaku tersayang tidak shock dengan berita ini. Aku hanya berharap bisa mendapatkan solusi terbaik. Betapapun, rasanya tetap penting aku untuk mendapatkan lisensi menyampaikan ilmu tuk yang lain. sekalipun bukan dari *****d.
Semoga!
Rabu, 07 Juli 2010
mau buat entry tapi malas
sejadinya saja. begitu kehidupan ini harus berlanjut dan tidak bisa ditunda. maka, jalani saja. semoga saja masa depan menjadi lahan terbaik sebelum ajal menjemput. tak perlu menjaga izzah dengan membangun kemunaikan. cukup sederhana saja dan jadilah insan sejati. insan yang berkekurangan tetapi berusaha untuk sempurna atau menjadi lebih baik.
kupatrikan saja dalam hatiku. aku akan tersenyum untuk semua. yah, di hati ini hanya Tuhan yang tahu. akan kurangkai semua meskipun dalam remang dan gelap. aku yakin, cahaya terang itu sudah dekat. hanya masalah waktu dan ikhtiar saja.
untuk masalah masa depan, memang penuh teka-teki. jadi jangan risau. rancang saja. muhasabah dengan masa lalu. dan fokus pada masa kini. enjoyyyyy.
masih harus berlari mengejar ketertinggalan. semangat aja. kehilangan atau mendapat sesuatu, itu mah urusan lain. tepati janji dan kerjakan kewajiban. biarkan sang waktu akan mengantarkan ke lembah kebahagiaan.
dan kebahagiaan itu adalah hasil rajutan bahagia dalam perjalanan.
biarkan saja dia semakin agak kabur. karena ada Dia yang maha. maha agung dan maha kasih.
'kan ku utuskan salam ingatanku dalam do'a kudusku sepanjang waktu' (untuk seorang lelaki yang aku kagumi, my father. lipatkan balasan kebaikannya ya Allah)
kupatrikan saja dalam hatiku. aku akan tersenyum untuk semua. yah, di hati ini hanya Tuhan yang tahu. akan kurangkai semua meskipun dalam remang dan gelap. aku yakin, cahaya terang itu sudah dekat. hanya masalah waktu dan ikhtiar saja.
untuk masalah masa depan, memang penuh teka-teki. jadi jangan risau. rancang saja. muhasabah dengan masa lalu. dan fokus pada masa kini. enjoyyyyy.
masih harus berlari mengejar ketertinggalan. semangat aja. kehilangan atau mendapat sesuatu, itu mah urusan lain. tepati janji dan kerjakan kewajiban. biarkan sang waktu akan mengantarkan ke lembah kebahagiaan.
dan kebahagiaan itu adalah hasil rajutan bahagia dalam perjalanan.
biarkan saja dia semakin agak kabur. karena ada Dia yang maha. maha agung dan maha kasih.
'kan ku utuskan salam ingatanku dalam do'a kudusku sepanjang waktu' (untuk seorang lelaki yang aku kagumi, my father. lipatkan balasan kebaikannya ya Allah)
Minggu, 04 Juli 2010
Merasa
Merasa. Sebuah kata yang tidak setiap orang mampu. Banyak yang merasa bisa. Tetapi sering manusia tidak bisa merasa.
Merasa dicintai. Merasa mencintai. Rasa cinta. Rasa yang sering merusak. Rasa yang sering memberikan energi baru bagi yang merasakannya.
Cinta. Seperti sebilah pisau. Ia menjadi penuh manfaat jika manajemennya tepat. Namun rasa cinta sering menjadi terkuak ke permukaan dan mengantarkan insan yang merasakan menjadi ‘tersangka’. Tersangka karena terkena virus. Terkena penyakit hati yang merusakkan niat. Dan sering insan tersebut akhirnya tersingkir dari kancah perjuangan dakwah.
Tapi apakah cinta itu virus?
Bukankah cinta itu fitrah manusia?
Bukankah rasa suka itu lumrah dan wajar?
Lalu, kenapa sering rasa itu menjadi penghancur?
Sebenarnya, penyikapan dan penataan hati saat rasa itu hadar yang menjadikan insan menjadi tersalah. Sebuah aksioma dalam hal ini: Bahwa satu obat rasa itu adalah NIKAH.
Jelas dan lugas. Tatkala hal ini tak terpenuhi, di sinilah sering terjadi kesalahan. Rasa itu menjadi bumerang. Aktivitas menjadi berkurang. Banyak merenung, menghayal dan berangan-angan. Kemudian hadirlah rasa yang seolah menjadi keyakinan: Dia adalah yang terbaik untukku. Sebuah keyakinan yang sebenarnya terbentuk sebagai bentuk interaksi dengan hayalan yang dibangun oleh syetan.
Yang terbaik
Siapakah yang terbaik untukku?
Jawabannya akan diperoleh setelah semua prosedur pernikahan dijalani dengan benar. Proses ta’arru yang suci dari hal yang tidak dibenarkan Islam. Khitbah yang jauh dari acara jahili. Dan akad nikah yang di sertai walimatul ursy yang jauh dari kebiasaan jahili. Setelah akad itulah pertanyaan itu dapat dijawab. Dialah yang Allah Pilih sebagai insan terbaik untukmu. Dan jikalau di masa datang Allah takdirkan berpisah (semoga tidak terjadi), percayalah Allah akan memberikan yang terbaik.
Menurut kita, x itu yang terbaik. Tetapi boleh jadi Allah memberikan yang lain. Karena Allah yang mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Akankah kita mengingkari Allah itu maha pengasih, maha penyayang dan maha bijaksana?
Sehingga, tatkala hadir rasa cinta, tanyakanlah hatimu dan renungilah semua sisi kehidupan. Kehidupan ukhrowi dan duniawi. Boleh jadi yang menurut kita baik agamanya tetapi ternyata tidak Allah kabulkan untuk menjadi milik kita karena ternyata dia berubah di kemudian hari. Atau, jika kita bertemu dengannya, kita kan mejadi durhaka atau manja sehingga perna dakwah kita menjadi berkurang. Demikianlah. Allah selalu lebih tahu daripada kita yang merasa cinta. Karena Allah adalah sang pencipta. Dia maha tahu dan maha bijaksana.
Semoga tidak ada perasaan merasa lebih tahu dan merasa bisa menentukan takdir hidup sendiri. Karena Allah yang menentukan sesuai kehendaknya. Maka benahilah usaha. Genapkan ikhtiar. Biarkan Allah memberikan balasan-Nya. Sucikanlah hati bersama rasa itu. Jangan biarkan Dia cemburu karena cintamu terbagi dari cinta-Nya.
Merasa dicintai. Merasa mencintai. Rasa cinta. Rasa yang sering merusak. Rasa yang sering memberikan energi baru bagi yang merasakannya.
Cinta. Seperti sebilah pisau. Ia menjadi penuh manfaat jika manajemennya tepat. Namun rasa cinta sering menjadi terkuak ke permukaan dan mengantarkan insan yang merasakan menjadi ‘tersangka’. Tersangka karena terkena virus. Terkena penyakit hati yang merusakkan niat. Dan sering insan tersebut akhirnya tersingkir dari kancah perjuangan dakwah.
Tapi apakah cinta itu virus?
Bukankah cinta itu fitrah manusia?
Bukankah rasa suka itu lumrah dan wajar?
Lalu, kenapa sering rasa itu menjadi penghancur?
Sebenarnya, penyikapan dan penataan hati saat rasa itu hadar yang menjadikan insan menjadi tersalah. Sebuah aksioma dalam hal ini: Bahwa satu obat rasa itu adalah NIKAH.
Jelas dan lugas. Tatkala hal ini tak terpenuhi, di sinilah sering terjadi kesalahan. Rasa itu menjadi bumerang. Aktivitas menjadi berkurang. Banyak merenung, menghayal dan berangan-angan. Kemudian hadirlah rasa yang seolah menjadi keyakinan: Dia adalah yang terbaik untukku. Sebuah keyakinan yang sebenarnya terbentuk sebagai bentuk interaksi dengan hayalan yang dibangun oleh syetan.
Yang terbaik
Siapakah yang terbaik untukku?
Jawabannya akan diperoleh setelah semua prosedur pernikahan dijalani dengan benar. Proses ta’arru yang suci dari hal yang tidak dibenarkan Islam. Khitbah yang jauh dari acara jahili. Dan akad nikah yang di sertai walimatul ursy yang jauh dari kebiasaan jahili. Setelah akad itulah pertanyaan itu dapat dijawab. Dialah yang Allah Pilih sebagai insan terbaik untukmu. Dan jikalau di masa datang Allah takdirkan berpisah (semoga tidak terjadi), percayalah Allah akan memberikan yang terbaik.
Menurut kita, x itu yang terbaik. Tetapi boleh jadi Allah memberikan yang lain. Karena Allah yang mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Akankah kita mengingkari Allah itu maha pengasih, maha penyayang dan maha bijaksana?
Sehingga, tatkala hadir rasa cinta, tanyakanlah hatimu dan renungilah semua sisi kehidupan. Kehidupan ukhrowi dan duniawi. Boleh jadi yang menurut kita baik agamanya tetapi ternyata tidak Allah kabulkan untuk menjadi milik kita karena ternyata dia berubah di kemudian hari. Atau, jika kita bertemu dengannya, kita kan mejadi durhaka atau manja sehingga perna dakwah kita menjadi berkurang. Demikianlah. Allah selalu lebih tahu daripada kita yang merasa cinta. Karena Allah adalah sang pencipta. Dia maha tahu dan maha bijaksana.
Semoga tidak ada perasaan merasa lebih tahu dan merasa bisa menentukan takdir hidup sendiri. Karena Allah yang menentukan sesuai kehendaknya. Maka benahilah usaha. Genapkan ikhtiar. Biarkan Allah memberikan balasan-Nya. Sucikanlah hati bersama rasa itu. Jangan biarkan Dia cemburu karena cintamu terbagi dari cinta-Nya.
Kamis, 01 Juli 2010
Menerima Kenyataan
Beginilah retak garis yang tercipta. Apapun itu, hanya harus berani untuk menegakkan kepala dan tetap tersenyum. Tersenyum untuk berarti bahagia. Setidaknya untuk membahagiakan saudara yang di sekitar.
Sudah malas rasanya membuat list kembali masalah-masalah yang dihadapi. Tidak pernah berubah. Itu-itu aja.
Lebih baik berpikir menerima aja. Berani mengucapkan terima kasih untuk semua. Semoga dengan itulah Allah menakdirkan bahwa diri dan jiwa ini ridha dengan takdirnya.
Ayo bangkit. Hadapi saja semua. Terimalah apa yang didapat. Meskipun sakit di hati atau cercaan. Karena yang terpenting adalah bagaimana sisa usia ini bisa diisi dengan peran bermakna dan penuh kemanfaatan. itu saja.
Laa izzata illa bil jihad.
itu kini yang harus aku tanamkan di dalam keyakinanku. Mudahkan ya Allah!!
Sudah malas rasanya membuat list kembali masalah-masalah yang dihadapi. Tidak pernah berubah. Itu-itu aja.
Lebih baik berpikir menerima aja. Berani mengucapkan terima kasih untuk semua. Semoga dengan itulah Allah menakdirkan bahwa diri dan jiwa ini ridha dengan takdirnya.
Ayo bangkit. Hadapi saja semua. Terimalah apa yang didapat. Meskipun sakit di hati atau cercaan. Karena yang terpenting adalah bagaimana sisa usia ini bisa diisi dengan peran bermakna dan penuh kemanfaatan. itu saja.
Laa izzata illa bil jihad.
itu kini yang harus aku tanamkan di dalam keyakinanku. Mudahkan ya Allah!!
Sabtu, 12 Juni 2010
Adakah Kau Lupa
Wahai diri
rentangan usia sudah memanjang
tarikan tinta kehidupan sudah penuhi kanvas
tetapkah ada detak rasa itu?
bilangan usia tak lah engkau pastikan
dan semua kejadian bukanlah atas izinmu
deraian salah dan ketidakseriusn
kenapa semakin mewarnai?
Setelah perjalanamu di jalan ini
tiga, lima, sepuluh atau bahkan puluhan tahun
diri sudah menceburkan diri dalam jalan ini
masihkah terngiang tujuan besar itu di hati?
Adakah kau lupa
Jalan ini penuh coba dan amat panjang
Cita itu mulia dan agung serta besar
dai itu tak akan tercapai tanpa kekuatan
Bukan saja kekuatan yang tampak
Tapi kekuatan yang disepelekan orang kafir
Kekuatan hubungan dan kedekatan kepada-Nya
Sang pemilik semua kekuatan.
Bahwa perjalanan ini kadang melenakan
atas nama kebaikan juga
dengan tameng masih ada kerjaan
dengan senjata ini demi umat
dengan argumen ini mihwar
dengan bantahan ini kan sementara
dan sekian deret lagi
Adakah kau lupa
tentang sang raja dan madu?
tatkala sekian banyak rakyatnya berdalih
'ini kan aku saja'
akhirnya, tiada madu
yang terkumpul adalah air
adakah kau lupa
kita adalah bangunan
bahwa kelemahan setiap bagiannya
akan melemahkan bangunan itu secara keseluruhan
Adakah kau lupa
bahwa semboyan kita adalah
'Nahnu du'at qobla kulla syaiin'
terserah apaun posisi da jabatan
adakah kau lupa
takkan pernah bisa memberi jika tidak punya
lantas apa yang akan diberikan untuk umat
jika tak ada sesuatu dalam diri
adakah kau lupa
ada sekian muwashshofat yang diinginkan
ada sekian kewajiban sebagai da'i
dan itulah bekal diri dan jiwa
melaksanakan peran sebagai da'i
Yah, kadang terasa sepele
membaca, hafalan, wirid
berkunjung, latihan, menelaah
tapi itu demi menjaga bangunan ini
Semoga
budaya memperbaiki diri dan mengajak orang lain
bisa kita bangun
Tetaplah optimis
Muhasabah untuk perbaikan bukan tangisan
Allahu Akbar!!
rentangan usia sudah memanjang
tarikan tinta kehidupan sudah penuhi kanvas
tetapkah ada detak rasa itu?
bilangan usia tak lah engkau pastikan
dan semua kejadian bukanlah atas izinmu
deraian salah dan ketidakseriusn
kenapa semakin mewarnai?
Setelah perjalanamu di jalan ini
tiga, lima, sepuluh atau bahkan puluhan tahun
diri sudah menceburkan diri dalam jalan ini
masihkah terngiang tujuan besar itu di hati?
Adakah kau lupa
Jalan ini penuh coba dan amat panjang
Cita itu mulia dan agung serta besar
dai itu tak akan tercapai tanpa kekuatan
Bukan saja kekuatan yang tampak
Tapi kekuatan yang disepelekan orang kafir
Kekuatan hubungan dan kedekatan kepada-Nya
Sang pemilik semua kekuatan.
Bahwa perjalanan ini kadang melenakan
atas nama kebaikan juga
dengan tameng masih ada kerjaan
dengan senjata ini demi umat
dengan argumen ini mihwar
dengan bantahan ini kan sementara
dan sekian deret lagi
Adakah kau lupa
tentang sang raja dan madu?
tatkala sekian banyak rakyatnya berdalih
'ini kan aku saja'
akhirnya, tiada madu
yang terkumpul adalah air
adakah kau lupa
kita adalah bangunan
bahwa kelemahan setiap bagiannya
akan melemahkan bangunan itu secara keseluruhan
Adakah kau lupa
bahwa semboyan kita adalah
'Nahnu du'at qobla kulla syaiin'
terserah apaun posisi da jabatan
adakah kau lupa
takkan pernah bisa memberi jika tidak punya
lantas apa yang akan diberikan untuk umat
jika tak ada sesuatu dalam diri
adakah kau lupa
ada sekian muwashshofat yang diinginkan
ada sekian kewajiban sebagai da'i
dan itulah bekal diri dan jiwa
melaksanakan peran sebagai da'i
Yah, kadang terasa sepele
membaca, hafalan, wirid
berkunjung, latihan, menelaah
tapi itu demi menjaga bangunan ini
Semoga
budaya memperbaiki diri dan mengajak orang lain
bisa kita bangun
Tetaplah optimis
Muhasabah untuk perbaikan bukan tangisan
Allahu Akbar!!
Rabu, 09 Juni 2010
Ingin menjadi Baru
Semoga hari ini mengawali kebangkitan dalam hidupku. Bangkit dari rasa lemah dan juga rasa ketidakberdayaan.
Semoga Allah memberikan kekuatan untuk mampu bertahan dalam garis kebenaran. Betapa kurasakan pedih. Seolah hidayah ini kupermainkan. Ketidakseriusanku sebagai seorang yang mengaku aktifis dakwah membuyarkan semua cita. Dosa itu menggunung, tapi permohonan ampun itu bahkan sering bertukar menjadi kepalsuan.
Begitu banyak kesalahan yang harus ditebus. Mungkin aku bisa memahami ini. Tapi bagaimana aku menjelaskan semua yang terjadi kepada wanita kesayanganku, IBU. Adik-adikku yang polos. Ya Allah, aku seperti bermain peran kebaikan tetapi itu hanyalah topeng. Dan kini topeng itu hancur. Dan nyatalah kini siapa sebenarnya yang dibalik topeng itu. Saiful yang nista dan lemah. Lemah asa dan lemah usaha. Jauh dari Tuhannya.
Sekian nama wanita yang menjadi korban. Karena kelalaianku, mereka jadi merasa ada virus merah jambu di hati mereka. Walaupun sebenarnya aku tak akan mungkin mampu membohongi hatiku sendiri. Ya Rabbii, mereka wanita yang mulia. Maafkan hati ini menjadi karena syahwat lawan jenis. Allah, aku sadar aku sungguh bukan sekufu dengan mereka. Maafkan aku ya Allah. Nafsuku membisikkan bahwa ini adalah fitrah dan tuntutan usiaku yang juga sudah berbilang. Astaghfirullah.
Aku malu ya Allah. Melihat bilangan usia yang nyaris sempurna 26 tahun, hatiku pedih. Merasakan tidak layak sepertinya aku dan kehidupanku kini berusia seperti itu. Rasanya kelakuan, kehidupan, amal dan semuanya dariku menunjukkan bahwa aku masih berusia di bawah 18 tahun. Penuh angan dan tak memiliki tanggungan. Ampuni hamba Ya Allah. Duhai Tuhanku, jangan engkau jadikan rasa fitrah di hati ini menjadi tameng dan menjerumuskan aku ke dalam azab-Mu.
Ya Allah, buatlah hati ini tenang. Jangan jadikan kegelisahan karena mengingati seorang wanita yang belum halal untukku bersemayam di dalamnya. Perih sekali terasa di ulu hati. Duhai Tuhan, aku sangat lemahnya. Tak sanggup aku menyahuti fitrah ini kini. Sekian rindu pun hati ini, tapi aku masih belum sanggup menunaikannya ya Allah. Aku sedikit tahu tentang amanah seorang suami. Rasanya aku belum sanggup ya Allah. Duhai Tuhanku, jangan biarkan hatiku berburuk sangka pada-Mu. Wahai sembahanku, Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Engkau memberikan yang tepat dan terbaik untuk hamba-Mu. Ya Allah, tolong bantu aku agar bisa fokus. Rabb, izinkan aku menyelesaikan S1-ku dengan segera. Ya Allah bukakan seluruh tabir yang menghalangi.
Allahku, Berikan ketenangan kepada Almarhum ayahku. Jadikan kuburnya sebagai taman syurga. Tambahkan balasan kebaikannya dan ampuni dosanya. Wahai Allah yang maha mulia, ampuni dosa-dosa ibuku. Berikan kemudahan hidup baginya. Berika ia kemudahan rezeki. Jadikan adik-adikku; Ali, Anas, Elfi, inur, dan Dina menjadi anak yang shaleh dan taat pada orang tua. Lembutkan hati mereka untuk selalu mengasihi Ibu. Berikan kesehatan dan hidayah-Mu pada mereka. Beri mereka kemudahan rezeki yang luas dan halal dari sisi-Mu.
Duhai Allah, kuatkan aku untuk berubah menjadi teratur dan hidup sesuai syariat dan contoh dari nabi-Mu. Engkau maha perkasa. Dan tidak ada tuhan yang mengabulkan doa kecuali Engkau.Allahummaghfirlii. amiin>
Semoga Allah memberikan kekuatan untuk mampu bertahan dalam garis kebenaran. Betapa kurasakan pedih. Seolah hidayah ini kupermainkan. Ketidakseriusanku sebagai seorang yang mengaku aktifis dakwah membuyarkan semua cita. Dosa itu menggunung, tapi permohonan ampun itu bahkan sering bertukar menjadi kepalsuan.
Begitu banyak kesalahan yang harus ditebus. Mungkin aku bisa memahami ini. Tapi bagaimana aku menjelaskan semua yang terjadi kepada wanita kesayanganku, IBU. Adik-adikku yang polos. Ya Allah, aku seperti bermain peran kebaikan tetapi itu hanyalah topeng. Dan kini topeng itu hancur. Dan nyatalah kini siapa sebenarnya yang dibalik topeng itu. Saiful yang nista dan lemah. Lemah asa dan lemah usaha. Jauh dari Tuhannya.
Sekian nama wanita yang menjadi korban. Karena kelalaianku, mereka jadi merasa ada virus merah jambu di hati mereka. Walaupun sebenarnya aku tak akan mungkin mampu membohongi hatiku sendiri. Ya Rabbii, mereka wanita yang mulia. Maafkan hati ini menjadi karena syahwat lawan jenis. Allah, aku sadar aku sungguh bukan sekufu dengan mereka. Maafkan aku ya Allah. Nafsuku membisikkan bahwa ini adalah fitrah dan tuntutan usiaku yang juga sudah berbilang. Astaghfirullah.
Aku malu ya Allah. Melihat bilangan usia yang nyaris sempurna 26 tahun, hatiku pedih. Merasakan tidak layak sepertinya aku dan kehidupanku kini berusia seperti itu. Rasanya kelakuan, kehidupan, amal dan semuanya dariku menunjukkan bahwa aku masih berusia di bawah 18 tahun. Penuh angan dan tak memiliki tanggungan. Ampuni hamba Ya Allah. Duhai Tuhanku, jangan engkau jadikan rasa fitrah di hati ini menjadi tameng dan menjerumuskan aku ke dalam azab-Mu.
Ya Allah, buatlah hati ini tenang. Jangan jadikan kegelisahan karena mengingati seorang wanita yang belum halal untukku bersemayam di dalamnya. Perih sekali terasa di ulu hati. Duhai Tuhan, aku sangat lemahnya. Tak sanggup aku menyahuti fitrah ini kini. Sekian rindu pun hati ini, tapi aku masih belum sanggup menunaikannya ya Allah. Aku sedikit tahu tentang amanah seorang suami. Rasanya aku belum sanggup ya Allah. Duhai Tuhanku, jangan biarkan hatiku berburuk sangka pada-Mu. Wahai sembahanku, Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Engkau memberikan yang tepat dan terbaik untuk hamba-Mu. Ya Allah, tolong bantu aku agar bisa fokus. Rabb, izinkan aku menyelesaikan S1-ku dengan segera. Ya Allah bukakan seluruh tabir yang menghalangi.
Allahku, Berikan ketenangan kepada Almarhum ayahku. Jadikan kuburnya sebagai taman syurga. Tambahkan balasan kebaikannya dan ampuni dosanya. Wahai Allah yang maha mulia, ampuni dosa-dosa ibuku. Berikan kemudahan hidup baginya. Berika ia kemudahan rezeki. Jadikan adik-adikku; Ali, Anas, Elfi, inur, dan Dina menjadi anak yang shaleh dan taat pada orang tua. Lembutkan hati mereka untuk selalu mengasihi Ibu. Berikan kesehatan dan hidayah-Mu pada mereka. Beri mereka kemudahan rezeki yang luas dan halal dari sisi-Mu.
Duhai Allah, kuatkan aku untuk berubah menjadi teratur dan hidup sesuai syariat dan contoh dari nabi-Mu. Engkau maha perkasa. Dan tidak ada tuhan yang mengabulkan doa kecuali Engkau.Allahummaghfirlii. amiin>
Kamis, 03 Juni 2010
GAZA TIDAK MEMBUTUHKANMU !
Ini tulisan dari mbak Santi Soekanto, wartawati senior, istri mas Dzikrullah. Wisnu Ramudya (wartawan juga) yang keduanya ikut dalam rombongan kapal Mavi Marvara. Tulisan ini dibuat hari Sabtu, 29 Mei 2010. Isinya sangat menggugah. Semoga bermanfaat!
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.
Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…. Bahkan ada seorang peserta kafilah yang mengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala. Yang wartawan sering merasa hebat dan *powerful* karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza. Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.
Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka. Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.
Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku. Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagi-Nya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agama-Nya.
Menolong membebaskan Al-Quds. Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha…Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza! Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku. Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku. Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg… Kucoba lagi menyiram… Masih ndableg. Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush.Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…Blus! Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.
Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
sumber: http://www.al-ikhwan.net/gaza-tidak-membutuhkan-aku-3704/
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.
Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…. Bahkan ada seorang peserta kafilah yang mengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala. Yang wartawan sering merasa hebat dan *powerful* karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza. Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.
Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka. Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.
Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku. Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagi-Nya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agama-Nya.
Menolong membebaskan Al-Quds. Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha…Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza! Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku. Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku. Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg… Kucoba lagi menyiram… Masih ndableg. Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush.Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…Blus! Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.
Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
sumber: http://www.al-ikhwan.net/gaza-tidak-membutuhkan-aku-3704/
Label:
catatan harian,
Ghaza,
iklhas,
renungan
Rabu, 02 Juni 2010
Dosa
Berdosa
Melakukan kemaksiatan
karena dosa bukan perbuatan
tapi dosa adalah balasan
Yah, dosa itu tak tampak
dosa itu tidak membuat bercak merah pada wajah
secara langsung
jadi, perlu kejelian.
Dosa itu balasan atas tiap kesalahan
ganjaran untuk tiap maksiat
pembawa kesengsaraan
dan pemberi penderitaan
Meski ia tidak tampak oleh manusia
tapi ia tak akan pernah terlupa
dari catatan amal
ia akan menagih di hari berbangkit
Hati-hati
itu saja yang perlu
Hati-hati
agar diri tidak bermaksiat dan melanggar aturan-Nya
maka dosa tidak akan datang
Ampunan adalah harapan
semoga dosa tak menghalangi diri
dari hidayah dan kasih sayang-Nya
allahummaghfirlii
Melakukan kemaksiatan
karena dosa bukan perbuatan
tapi dosa adalah balasan
Yah, dosa itu tak tampak
dosa itu tidak membuat bercak merah pada wajah
secara langsung
jadi, perlu kejelian.
Dosa itu balasan atas tiap kesalahan
ganjaran untuk tiap maksiat
pembawa kesengsaraan
dan pemberi penderitaan
Meski ia tidak tampak oleh manusia
tapi ia tak akan pernah terlupa
dari catatan amal
ia akan menagih di hari berbangkit
Hati-hati
itu saja yang perlu
Hati-hati
agar diri tidak bermaksiat dan melanggar aturan-Nya
maka dosa tidak akan datang
Ampunan adalah harapan
semoga dosa tak menghalangi diri
dari hidayah dan kasih sayang-Nya
allahummaghfirlii
Senin, 31 Mei 2010
Munajat Seorang Hamba
Artist: Hijjaz
Dikala malam sunyi sepi
Bani insan tenggelam dalam mimpi
Musafir yang malangini pergi membasuh diri
Untuk mengadap-Mu oh Tuhan
Lemah lutut ku berdiri
Di hadapan mu tangisanku keharuan
Hamba yang lemah serta hina
Engkau terima jua mendekati
Bersimpuh dibawah duli kebesaran-Mu
Tuhan hamba belum pasti
Bagaimana penerimaan-Mu
Dikala mendengar pengaduanku
Ku yakin Kau tak mungkiri
Dalam wahyu yang Kau nuzulkan
Kau berjanji menerima pengaduanku
Dan Kau berjanji sudi mengampunkan ku
Dari segala dosa yang ku lakukan
Ampunan-Mu Tuhan
Lebih besar dari kesalahan insan
Hamba yakin pada keampunan-Mu Tuhan
Bukan tidak redha dengan ujian
Cuma hendak mengadu pada-Mu
Tempat hamba kembali nanti di sana
Semoga bisa dijadikan sebagai pengetuk hati dalam suka duka. Selamat mencoba untuk menjadi lebih baik.
Dikala malam sunyi sepi
Bani insan tenggelam dalam mimpi
Musafir yang malangini pergi membasuh diri
Untuk mengadap-Mu oh Tuhan
Lemah lutut ku berdiri
Di hadapan mu tangisanku keharuan
Hamba yang lemah serta hina
Engkau terima jua mendekati
Bersimpuh dibawah duli kebesaran-Mu
Tuhan hamba belum pasti
Bagaimana penerimaan-Mu
Dikala mendengar pengaduanku
Ku yakin Kau tak mungkiri
Dalam wahyu yang Kau nuzulkan
Kau berjanji menerima pengaduanku
Dan Kau berjanji sudi mengampunkan ku
Dari segala dosa yang ku lakukan
Ampunan-Mu Tuhan
Lebih besar dari kesalahan insan
Hamba yakin pada keampunan-Mu Tuhan
Bukan tidak redha dengan ujian
Cuma hendak mengadu pada-Mu
Tempat hamba kembali nanti di sana
Semoga bisa dijadikan sebagai pengetuk hati dalam suka duka. Selamat mencoba untuk menjadi lebih baik.
Sabtu, 29 Mei 2010
Mencintai
Rasa itu datang tanpa sebab. Itulah cinta yang merasuki anak adam. Itu adalah rasa fitrah yang harus dijaga. Sebab, sering juga rasa itu malah membuat kehinaan bagi pemiliknya. Sebaiknya, rasa itu harus segera disahuti dengan pernikahan. Menyempurnakan sebagian agama.
Hal yang paling menghalangi adalam hal ini adalah syetan. Dia akan berwujud ketakutan karena belum memiliki ma'isyah dan kemampuan. Padahal, jika keinginan itu tulus dan sudah memiliki sebagian saja dari persyaratan untuk itu, maka jalan terbaik adalah menyempurnakannya. Alasan yang juga sering adalah masalah akademik. Masih sekolah atau masih kuliah. Sebenarnya bukan sekolah atau kuliah patokannya. Melainkan kesanggupan fisik dan moral serta mental.
oleh karena itu, jika memang kondisi yang sangat belum mendukung maka jangan sekali-kali mengumbar rasa itu. Jika pun ia hadir, naka netralisirlah dengan berbagi cara. Berpuasa, mencari aktivitas yang menyibukkan hati agar rasa itu tidak sempat hadir. Atau meluapkan rasa itu tanpa harus diketahuai orang yang dicintai maupun orang lain. Kemudian bersungguh-sungguh lah memperlajari seluk beluk pernikahan dan mempersiapkan diri.
Bersabar untuk membangun kekuatan finasial dan mental merupakan tindakan terbaik. Dari pada sekedar merana memikirkan si dia atau menjadi angan-angan kosong yang tidak akan kesampaian. Sadarilah, bahwa orang yang kita sukai terkadang bbukan orang yang tepat dan sesuai untuk kita. Sehingga jangan pernah menganggap bahwa kalau tidak menikah dengan si dia maka semua akan berantakan dan tidak mau menikah. Rasa itu Allah berikan kepada insan yang berlainan jenis. Dan rasa itu merupakan wujud kasih sayang Allah.
Bekalilah diri dengan keimanan yang kokoh dan wawasan keislaman yang komprehensif. Agar menyempurnakan agama itu segera bisa dilangsungkan jka jetepatan ada yang nyantol di hati. Berhati-hatilah dalam hal ini. Pernikahan itu mulia. Jangan sampai ternodai dengan cara pendekatan atau pelaksanaan upacara yang menyalahi syari'at. Berkali diri dengan ilmu.Luruskan niat.
Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Ia akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Iman di hati adalah takaran kebaikan yang akan didapatkan. Jadi, jika memang belum mampu untuk menikah, tahan saja dulu cintamu. Perkuat keimanan dan pengetahuan. Dekatkan diri kepada Allah. Banyak berpuasa insyaAllah membantu. Pengetahuan menikah itu banyak. Dari awal sampai dengan kalau mau menikahkan anak kelak.Ya, semua peraturan hiduplah. Bagaimana hak dan kewajiban kita terhadap pasangan, terhadap orang tua, mertua, keluarga dari pasangan, keluarga kita, masyarakat dan sebagainya.
Sibukkan saja diri dengan persiapan. InsyaAllah Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha yang dilakukan.
Bekerja terus. Beramal tiada henti. Berkarya tiada mati. Berdoa tak kenal kata putus.
Hal yang paling menghalangi adalam hal ini adalah syetan. Dia akan berwujud ketakutan karena belum memiliki ma'isyah dan kemampuan. Padahal, jika keinginan itu tulus dan sudah memiliki sebagian saja dari persyaratan untuk itu, maka jalan terbaik adalah menyempurnakannya. Alasan yang juga sering adalah masalah akademik. Masih sekolah atau masih kuliah. Sebenarnya bukan sekolah atau kuliah patokannya. Melainkan kesanggupan fisik dan moral serta mental.
oleh karena itu, jika memang kondisi yang sangat belum mendukung maka jangan sekali-kali mengumbar rasa itu. Jika pun ia hadir, naka netralisirlah dengan berbagi cara. Berpuasa, mencari aktivitas yang menyibukkan hati agar rasa itu tidak sempat hadir. Atau meluapkan rasa itu tanpa harus diketahuai orang yang dicintai maupun orang lain. Kemudian bersungguh-sungguh lah memperlajari seluk beluk pernikahan dan mempersiapkan diri.
Bersabar untuk membangun kekuatan finasial dan mental merupakan tindakan terbaik. Dari pada sekedar merana memikirkan si dia atau menjadi angan-angan kosong yang tidak akan kesampaian. Sadarilah, bahwa orang yang kita sukai terkadang bbukan orang yang tepat dan sesuai untuk kita. Sehingga jangan pernah menganggap bahwa kalau tidak menikah dengan si dia maka semua akan berantakan dan tidak mau menikah. Rasa itu Allah berikan kepada insan yang berlainan jenis. Dan rasa itu merupakan wujud kasih sayang Allah.
Bekalilah diri dengan keimanan yang kokoh dan wawasan keislaman yang komprehensif. Agar menyempurnakan agama itu segera bisa dilangsungkan jka jetepatan ada yang nyantol di hati. Berhati-hatilah dalam hal ini. Pernikahan itu mulia. Jangan sampai ternodai dengan cara pendekatan atau pelaksanaan upacara yang menyalahi syari'at. Berkali diri dengan ilmu.Luruskan niat.
Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Ia akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Iman di hati adalah takaran kebaikan yang akan didapatkan. Jadi, jika memang belum mampu untuk menikah, tahan saja dulu cintamu. Perkuat keimanan dan pengetahuan. Dekatkan diri kepada Allah. Banyak berpuasa insyaAllah membantu. Pengetahuan menikah itu banyak. Dari awal sampai dengan kalau mau menikahkan anak kelak.Ya, semua peraturan hiduplah. Bagaimana hak dan kewajiban kita terhadap pasangan, terhadap orang tua, mertua, keluarga dari pasangan, keluarga kita, masyarakat dan sebagainya.
Sibukkan saja diri dengan persiapan. InsyaAllah Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha yang dilakukan.
Bekerja terus. Beramal tiada henti. Berkarya tiada mati. Berdoa tak kenal kata putus.
Langganan:
Komentar (Atom)